jump to navigation

DM, antara kenyataan dan rekaan

images2

Beberapa waktu lalu, saya yang mengontrak penelitian pendidikan berbobot 3 sks di kelas semester 5, diajukan mempersiapkan tiga judul untuk proposal penelitian-suatu pengajuan untuk menulis judul skripsi (yang dianggap temen saya sebagai perbuatan nekad karena saya baru masuk ke universitas itu setahun yang lalu). Terpaksalah saya membaca tumpukan skripsi tahun-tahun lalu. Tidak lupa saya bertanya juga ujung-ujungnya, mana skripsi paling baik. Lalu dosen saya mengajukan beberapa nama, salah satunya mantan ketua Himadiksastrasia tiga tahun yang lalu, Aca Sutisna.

Aca Sutisna membuat judul skripsi kesusastraan “Analisis Sosiohistoris Tragedi Karbala Dalam Novel ‘Prahara di Nainawa’ Karya Muhsin Labib”. Apa hubungannya dengan novel DM?

Banyak. Sosiohistoris digunakan untuk mengukur seberapa jauh kenyataan dengan rekaan. Adanya asumsi bahwa karya sastra bersifat fiksional, yang di dalamnya terlepas dari realitas yang sebenarnya, melainkan sebuah cermin kehidupan yang secara nyata memantulkan gambaran keadaan masyarakat pada masa penceritaannya- melatarbelakangi mengapa mengambil langkah analisis sosiohistoris.

Singkatnya, hubungan antara kenyataan dan rekaan dalam novel merupakan hubungan dialektis atau bertetangga. Mimesis tidak mungkin tanpa kreasi, begitu pula kreasi tidak mungkin tanpa mimesis. Pemberian makna pada karya sastra berarti perjalanan bolak-balik yang tak berakhir antara dunia kenyataan dan dunia khayalan, yang keua-duanya hakiki untuk kita sebagai manusia (Teeuw, 2003:204).

Jadi, itu terserah anda apakah menggolongkan DM sebagai novel fiksi atau autobiografi. Ini sama kasusnya seperti orang menggolongkan Laskar Pelangi sebagai fiksi atau autobiografi Andrea Hirata sendiri.

Komentar»

1. azkaa,, - November 19, 2008

deas, kok passwordnya salah ya? tolong sms dunk.. tengkyuuuu..

2. deezeeka - November 20, 2008

Hehe, iya tak ganti paswordnya buat menjaga hati ^_^