Ini cerita tentang pernikahan. Biasanya memang ada jeda antara impian dan realita, bahwa kita harus menerima apa yang ada. Jika Allah memberi, berarti Allah tahu bahwa kita mampu. Ada ujian kesabaran di dalamnya. Keluhan sekecil apapun tak sebaiknya terlontar.
“Suamiku, kau suruh aku membuat sepuluh cangkir kopi pun aku bersedia, jika memang kopi yang ku buat belum pas untukmu…………”
“Suamiku, sesungguhnya jika aku marah padamu, aku tak sungguh-sungguh marah, aku marah pada driku sendiri….”
*tak sanggup lagi menulis*
0


