MUHARRIK “TULEN”

Posted: Januari 7, 2011 in Uncategorized
Tag:, ,

Dakwah membutuhkan kader-kader yang mampu berfikir besar dan berjiwa besar untuk menunaikan kerja besar meraih cita-cita besar. Dakwah juga membutuhkan kader pekerja maksimalis, bukan pekerja minimalis yang menghindar dari resiko dan tantangan. Latih terus insting dan naluri harokah kita di setiap liqo dan amal da’awi kita, karena dakwah ini harus mengalir dan bergerak terus.

Sebuah penelitian dilakukan terhadap binatang kecil sejenis kutu. Binatang tersebut terbiasa meloncat hingga ketinggian satu meter. Suatu kali binatang tersebut dimasukkan ke dalam kotak korek api selama beberapa hari. Ketika binatang tersebut dikeluarkan dari kotak tersebut, apa yang terjadi? Jika selama ini ia mampu meloncat hingga satu meter, kini ia hanya mampu meloncat setinggi kotak korek api yang hanya sekitar 2 cm saja. Ternyata beberapa hari di kotak korek telah menurunkan kemampuan loncatnya. Standard loncatannya menurun karena lingkungan yang dia alami.

Suatu ketika di sebuah kebun binatang di Cina didatangkan seekor harimau buas. Ia diberi kandang yang bersih, ada tempat berteduh dari sengatan panas, ada pula kolam kecil tempat ia minum dan berendam jika kepanasan. Setiap hari ia diberi makan daging ayam atau bebek yang telah dibersihkan. Suatu hari petugas kebun binatang memasukkan seekor anak sapi yang kira-kira tingginya sama dengan harimau tersebut. Apa yang terjadi? Jangankan untuk menyerang anak sapi, bahkan harimau itu lari ketakutan. Rupanya ia telah terbiasa memakan makanan daging bersih, sehingga hilanglah naluri kebuasan yang sebenarnya merupakan ciri khas dari binatang tersebut. Watak aslinya berubah karena lingkungan yang dia alami.

Ikhwah fillah yang senantiasa istiqomah di jalan dakwah,..
Tentu kita telah mendengar, atau bahkan sebagian kita mengalami masa-masa ta’sis dakwah (Permulaan dakwah) di negara ini. Begitu militan! Dauroh rekrutmen untuk memperbanyak barisan kader hampir tiap bulan dilakukan. Membidik pribadi-pribadi “hanif” untuk diajak bergabung dengan dakwah menjadi kerja harian setiap ikhwah. Sabtu-Ahad menjadi hari-hari yang begitu sibuk menggarap proyek dakwah. Seorang ikhwah terbiasa mengelola 4, 5, bahkan 6 halaqoh. Rutinitas hidup ikhwah berputar dari satu dauroh ke dauroh lain, dari satu halaqoh ke halaqoh lain. Jauhnya jarak dan padatnya waktu justru semakin meningkatkan semangat dan motivasi. Perjalanan pengap sesak bergelantungan di kendaraan umum selama 3-4 jam untuk menghadiri liqo sudah menjadi kelaziman. Rupiah demi rupiah tak terasa mengalir keluar, membiayai sendiri setiap proyek dakwah. Begitulah ikhwah saat itu menikmati keindahan dan kenikmatan jihad.

Ikhwah saat itu begitu berhati-hati, khawatir terjadi pelanggaran syar’I dalam mu’amalah misalnya. Jika ada ikhwah yang berencana untuk nikah, dari awal hijab sudah dijaga, memilih pasangan dengan niat membangun usroh da’awi, dan meminta pendapat murabbi. Walimatul ‘Ursy pun dirancang begitu hati-hati, segala daya upaya ditempuh agar suasana islami dibangun karena walimah adalah syi’ar dakwah. Batasan syar’I sekecil apapun tidak dilanggar, menghindari tabarruj, kemubaziran dalam berbagai hal, ataupun hiburan yang tak jelas apakah nasyid atau lagu pop.

Saat ini dakwah kita telah menembus dan memasuki tahapan-tahapan yang menakjubkan. Senang kita melihat ikhwah memegang amanah strategis di negeri ini. Ada yang menjadi menteri, gubernur, walikota-bupati, anggota DPR-DPRD, dan posisi penting lainnya. Gembira kita melihat sebagian ikhwah sudah mampu mengelola bisnis dengan baik. Nyaman kita saat rapat di markas yang sejuk ber-AC, meja penuh laptop, infokus, dan TV LCD pun tersedia. Sekarang, markas dakwah kita dituntut memiliki lahan parkir yang cukup memuat jejeran mobil dan motor yang dibawa ikhwah saat ada acara. Tidak ada yang salah dengan itu semua, apalagi jika itu semua kita gunakan untuk mengefektifkan dan mempermudah dakwah menggapai cita-cita besar. Semua fasilitas, jabatan dan kekuasaan kita gunakan untuk melayani dakwah.

Ikhwah fillah,
Rupanya Allah mentaqdirkan kita lahir menjadi seorang muharrik, keluarga kita juga keluarga muharrik. Kita adalah “muharrik tulen”, apapun posisi profesi kita. Eksekutif, legislatif, pengusaha, dosen, guru, aktifis LSM, wiraswasta, PNS, buruh…, sebelum menjadi apapun, ternyata kita ini adalah da’i. Nahnu du’at qobla kulli syai’in. Da’I yang siap mengelola beberapa halaqoh. Da’I yang selalu membuat perencanaan rekrutmen fardhiyah. Da’I yang terbiasa merancang dauroh. Da’I yang masih siap jika dakwah menuntutnya untuk bekerja keras dan berjerih payah. Tak berkurang sedikitpun karakter muharriknya.

Kini, seorang ikhwah mengingatkan; tetaplah kita menjadi “muharrik tulen” yang memiliki daya jelajah kerja yang hebat! Gagasan-gagasan brilian yang melampaui pemikiran umum! Jangan jadikan kondisi nyaman yang ada disekitar kita seperti kotak korek api yang bisa menurunkan kapasitas, kualitas kerja dan standard kita yang sesungguhnya, sehingga kita menjadi “duuna mustawa” (di bawah standard). Jangan jadikan lingkungan aktifitas beserta fasilitas yang sehari-hari kita nikmati merubah naluri muharrik kita. Jangan biarkan “cc” kita semakin lama semakin berkurang, hingga sampai pada titik kita merasa asing untuk menjadi murabbi, kita gugup ketika diminta taujih dalam sebuah dauroh, kita merasa berat dan terasa begitu jauh saat liqo ada diluar kecamatan kita, kita harus menghitung berulang kali saat ada munashoroh membantu ikhwah yang membutuhkan. Tak terasa sedikit demi sedikit batasan syar’I menjadi longgar. Insting muharrik kita semakin lama semakin melemah…dan itu tak boleh terjadi.

Ikhwah fillah,
Kita telah dianugerahi Allah kapasitas kerja yang besar, maka syukurilah dengan cara meledakkan kapasitas itu, untuk kepentingan dakwah. Ledakkan potensi positif kita untuk menerangi negeri yang sedang porak poranda ini. Latih terus insting dan naluri harokah kita di setiap liqo yang kita jalani, karena dakwah ini harus mengalir dan bergerak terus. Pastikan kita selalu berada bersama aliran dan gerakan dakwah ini, dan dalam kondisi itulah Allah SWT memanggil kita. Aamiin.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s