
Menyenangkan sekali pagi ini, ketika aku memasuki kampus, mengetahui bahwa mesjid kampus ini hidup. Ada tiga pasang sepatu yang pemiliknya menunaikan sedekah rusuknya lewat Dhuha pagi. Kutemukan juga wajah yang tak asing. Kami berbasa-basi sedikit. Ia ujian sidang skripsi pagi ini. Seraya berdo’a untuk kesuksesan kader lainnya, aku membuka pintu mesjid akhwat. Beberapa adik kelas memasuki mesjid, mulai melingkar.
Aku jadi teringat ucapan salah satu ikhwan kemarin,
“Kenapa kita harus tarbiyyah?”. Lalu kukatakan Rasulullah juga dulu tarbiyyah di rumah sahabat.
“Rasulullah yang tarbiyyah atau sahabatnya yang tarbiyyah?”
Aku beristighfar. Aku hanya berdo’a dalam hati, semoga Allah berkenan memberimu hidayah. Salahkah kalau kita tarbiyyah? Melingkar untuk mendekat pada-Nya, saling mengevaluasi diri, mengkaji Al-qur’an, saling memahami hal-hal yang mendasar dalam aqidah kita? Pertanyaan ikhwan itu seakan memancing karamnya keyakinan. Aku merasa terusik. Marah. Namun kusadar, aku tak begitu pandai beretorika. Aku hanya bisa menyentuh hatinya dengan do’a.
Kututup dengan do’a penutup majelis. Sayup-sayup terdengar suara ikhwan yang qira’ah. Ikhwan akhwat dibatasi hijab mesjid. Ah, indahnya. Rapat syi’ar. Ingin sekali aku duduk menemani, mendengarkan program untuk ummat ini. Menikmati syiar-syiar agama yang diridhoi Alah ini, tuk sentuh insan rabbani…
Tapi, aku harus ke sekolah menemani siswaku mengerjakan UAS.
Sebuah bangunan yang mudah disentuh nafas ilahiyyah, aku menyebutnya. Dalam dindingnya bergema ayat-ayat suci Al-Qur’an yang ditalaqqi setiap hari. Malaikat pun berbagi sifatnya dengan anak-anak kader itu. Ya, kebanyakan anak yang bersekolah di sini adalah anak ikhwah. Mewarisi ahlak kedua orang tuanya, mereka yang berasal dari negara kecil bernama keluarga, mempunyai visi untuk membangun ummat. Meluruskan anak, kita juga harus lurus… itulah mengapa guru di sini harus tarbiyyah.
Pun suami saya kelak.
Ah, kawan, kau jadi tersedak bukan? Ya, mengapa aku tiba-tiba membicarakan hal ini. Sudah lama, aku menyadari satu hal, ada sepasang mata yang selalu menangkap gerak-gerikku. Membingkaiku dalam sebuah kata. Kalau bukan aku yang GR (Gede Rasa, Gede Rumasa), rasanya ingin aku akhiri saja pengabdianku di sekolah ini. Aku tak suka ada orang yang menaruh hasrat padaku. Sama tak sukanya aku bila aku menaruh hasrat pada seseorang. Aku pernah. Rasanya gamang. Merasa bersalah, itu rasanya bila kau tahu ada yang menaruh hati padamu. Karma berlaku saat ini.
Betapa usia wanita di penghujung dua puluh mudah sekali menjadi fitnah pabila tak ada yang mengkhitbah.
“Seakan tak ada lagi lelaki lain saja,” begitu kata temanku.
Aku hanya tersenyum kecut. Ya, rasa ini, rasa yang haram ini… biar berlalu saja. Karena kewajiban seorang wanita adalah mencintai lelaki manapun yang ia nikahi. Tak semua orang beruntung bisa menikah dengan wanita atau laki-laki yang dicintainya. Betapa hebat, wanita yang menikah dengan laki-laki yang ia tidak satu fikrah dengannya. Lalu wanita itu mengubah lelakinya. Namun, aku tak mau membuat pilihan itu.
Aku hanya takut satu hal. Ia menikahiku karena parasku, bukan aqidahku. Aku takut bila ia menemukanku tidak secantik yang ia kira, ia kan berpaling bagiku. Lalu kapal yang kami layari kan karam diterjang badai. Ah, pikiranku terlalu jauh ya…
Sungguh, aku merasa diri ini terlalu menyebalkan. Terlalu pemilih. Terlalu mengada-ngada, kalau masih menyimpan rasa…..
Ah, selama ia belum datang ke rumah, biarkanku merasa nyaman dalam kesendirianku!
Garut, 151210
0


