
“15 September 2007. Dee, ini aku yang namanya tak pernah kau sebut dalam diarymu. Dee, sudahlah. Mari kita songsong hari baru. Kita mulai hidup ini, yang lama biarlah berlalu. Tak ada gunanya disesali, ditangisi terus-menerus, kamu malah nyusahin orang yang disekitarmu. Kamu nggak kasihan sama kita. Gara-gara kamu nangis, jadi aku, ayah, dan ibumu juga ikut nangis. Secara tidak langsung kamu telah membawa kita semua ke dalam masalahmu.”
Tahukah kau bagaimana rasanya menjadi Anak Kampus Lain? Rasanya seperti kau harus membuang satu kehidupan yang engkau tak tahu bagaimana akhirnya. Seperti mainan puzzle yang tak’kan pernah selesai karena sebuah kepingan puzzle lain yang raib. Tetapi, sungguh, aku lelah menentang keadaan, maka aku berserah diri pada Allah SWT.
Perlahan, aku memahami empat tingkatan keimanan kepada qadar karena kejadian ini: 1. al-ilmu: mengimani bahwa Allah memiliki ilmu (pengetahuan) tentang apa yang lalu dan yang akan datang, 2. al-kitabah: mengimani bahwa Allah menulis seluruh apa yang lalu dan apa yang akan datang (semuanya sudah tertulis), 3. al-masyi’ah (kehendak): mengimani bahwa semua yang terjadi yang lalu,yang akan datang,yang baik dan buruk smuanya atas kehendak Allah, dan 4. al-khalq (penciptaan): mengimani bahwa seluruh apa yg terjadi, termasuk perbuatan makhluk, adalah bagian dari ciptaan Allah. Sekarang, aku berusaha untuk memahami tingkatan keempat, tingkatan tertinggi.
Kemudian, aku bercerita dengan bijak pada temanku, setelah tiga tahun berlalu, bahwa pengalaman masa laluku itu membentuk diriku yang sekarang ini. Tak sedikit pula yang berusaha menggenapi keyakinanku bahwa ini yang terbaik bagiku. Allah SWT tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Bahkan Allah pun menjamin rezeki mahluk melata di muka bumi ini. Ampuni hamba ya Allah, bila ku masih berkeluh kesah menjalani hidup ini. Di bawah langit-Mu, kutengadahkan kepala, panjatkan do’a. Allahu Ya Rahman, penuhilah diri ini dengan hidayahMu….
“Di Bawah LangitMu
Bersujud Semua
Memuji Memuja AsmaMu
Dan Bertasbih Semua
Makhlukmu Tunduk
Mengharap Cinta Dan KasihMu”
Yang paling menarik di sana adalah mahasiswanya. Aku masih ingat, selain cerdas, mereka mempunyai karakter yang kuat. Karakter religius, begitu dekat pada Allah SWT. Mereka jauh mengenal lingkungan tarbiyyah sejak SMP atau SMA. Tak sedikit pula yang terlahir dari keluarga ikhwah, dari keluarga daiyyah yang mengusung dakwah. Membuatku iri. Iri pada orang-orang shaleh. Ingin seshaleh mereka. Tak ingin mengingat masa lalu yang penuh kejahiliyahan, kegelapan, ketidakpastian, juga keteguhan aqidah.
“Cahaya Ilahi
Hangatnya Di Hati
Di Langkah Sejuta Wajah
Terbata Penuh Salah
Jalani Sang Hidup
Terluka Terhempas Berdosa”
Aku seperti bayi di umurku yang ke-17. Tak pernah mentarbiyyah diri. Begitu berbeda kau memandang hidup ini apabila kau sudah mentarbiyyah dirimu. Ada banyak perspektif, ada banyak ijtihad yang berbeda di dunia ini. Namun, yang diberikan hidayah oleh Allah, itulah yang paling baik tuk diyakini.
Hitam Putih Jalan Hidup
Pahit Getir Warna Dunia
Tangis Tawa Rasa Hati
Terluka Atau Bahagia
Rasa Bangga Sementara
Setiap Duka Tak Abadi
Semuanya Wajah Kan Dipuji
Pada Allah Kita Kan Kembali
Di bawah langit-Mu, Allah. Jika saat ini ku belum mampu mengerahkan segenap potensiku, maka aku mohon ampunan-Mu. Ketika ku menulis untaian kata demi kata ini, sungguh, bukan karena aku menyesali yang terjadi. Namun ini adalah semacam terapi bagiku, dan sebagai hikmah untuk orang di sekelilingku. Sungguh, dunia ini tempatnya berbagai macam ikhtiar yang dibarengi dengan keikhlasan. Bila ikhlas tidak ada, niscaya keluh yang bertahta.
Di bawah langit-Mu, Allah. Jika saat ini aku tak mampu menjadi insinyur pertanian, membantu negeri agraris ini, maka ampunilah aku. Ampunilah ketidaktahuanku akan pengetahuan yang aku punya. Prasangka berbangga hati pada kecerdasan temporal yang sederhana. Ampunilah atas keinginan yang tak sesuai dengan potensi diri. Ampunilah bila aku termasuk yang menzhalimi diri. Ampunilah….
Di bawah langit-Mu Allah, jika saat ini aku masih menyimpan rasa yang tak patut pada mahluk-Mu, dengan kecintaan berlebih yang tak logis, yang membuat-Mu cemburu, maka maafkanlah. Jika saat ini aku masih mengotori hati, berharap bukan kepada-Mu, berdoa untuk meraih hatinya alih-alih ridha-Mu, maka maafkanlah…Di bawah langit-Mu Allah, jika saat ini aku menzhalimi profesi yang aku jalani, mengabaikan kepercayaan yang diberikan padaku, maka maafkanlah…
Di bawah langit-Mu, Allah, jika Engkau tak menetapkan bahwa aku harus memasuki kampus itu, mungkin ku tak’kan beroleh hidayah seperti saat ini. Aku tak’kan berjilbab dengan benar, tak paham agamaku dengan kaafaah, tak mampu mengimani hal-hal yang terjadi, tak mampu bersabar dalam menikmati proses kehidupan. Tak menjadi tinggi derajat diri yang hina ini di hadapan-Mu.
Di bawah langit-Mu, Allah, jika dulu aku pernah menyakiti hati kedua orang tuaku akan ketidakberhasilanku membawakan gelar terbaik, maka maafkanlah aku. Jika dulu aku pernah mengecewakan teman-temanku, guru-guruku, dan orang-orang yang menaruh harapan padaku, maafkanlah. Ampunilah.
Jika saat ini, di bawah langit-Mu Allah, aku mengharap cinta dan kasih-Mu maka penuhilah hati ini, sentuh, dan tetapkanlah pada iman kepada-Mu selalu. Di bawah langit-Mu, Allah, ku bersujud, memuja memuji asma-Mu. (Garut, 24Nov’10)
Diikutsertakan dalam lomba disini


