Novel karya Izzatul Jannah ini sangat menarik. Saya kutip untuk meyakinkan anda,
“Seorang daiyah tidak semestinya terlalu menggantungkan diri kepada yang lain selain Allah, bukan? Pikiran Laras terus berkecamuk bersama langkah-langkah kakinya yang mantap. Meski keinginan untuk ditemani, diantarkan, dan dijaga adalah sesuatu yang fitri? Sebab wanita selalu ingin menyatakan keinginannya untuk diberi, dan pria selalu merasa gagah jika bisa memberi. Keduanya seperti dua kutub yang berbeda, menghasilkan afinitas yang menakjubkan sehingga makmurlah bumi ini. Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, lalu Tuhan mengisi kekosongan dalam jiwa pria dengan ketertarikan yang fitri. Maka Qaysari berkata, ‘Maka tuhan menjadikan kaum wanita memikat bagi pria, sebagaimana Tuhan mencintai dia yang terbentuk dalam citra-Nya sendiri. Maka cinta timbul hanya terhadap dia yang dimunculkan darinya. Itu sebabnya Nabi berkata, “Dibuat memikat bagiku,” Dia tidak berkata, “Aku cinta” atas nama dirinya sendiri….”
Atau kutipan berikut,
“Manusia menyatukan alam dan cahaya. Alam membuat tuntutan kepadanya dan cahaya membuat tuntutan terhadapnya. Cahaya dituntut untuk tetap bersembunyi dan menahan diri dari sebagian besar kebaikannya dan apa yang dituntut oleh realitasnya sendiri dikarenakan kepentingan alam. Maka nabi berkata, ketika ditanya kepada siapa kebaikan yang penuh cinta harus ditunjukkan: ibumu, ibumu, ibumu…” (Rasa’il Al-Arabi, oleh Ibn Al-A’rabi Ayyam Al-Sya’n dalam Sachiko Murrata.1996. The Tao Of Islam. Mizan: Bandung)
Atau yang dikutip penulis berikut ini,
“Surga berarti perjalanan mendaki. Menjauhi apa yang telah kita saksikan. Surga itu amat…baik, adil, indah. Jadi kita harus menciptakannya di sini juga. Mengapa? Semata-mata untuk melatih diri kita sendiri, karena untuk dicintai membutuhkan banyak latihan. Tahukah kau?” (Fatima Mernissi. 1996. Setara di Hadapan Allah. LSPPA: Yogyakarta).
Kutipan berikut,
“Sakit bundaa….”
“Sebelah mana?”
“Di sini…” Fatimah menunjuk kepalanya.
“Dido’akan ya?”
Fatimah mengangguk.
“Allahummas fii Mbak Fatimah syifa’an ajilan. Ya Allah, berikanlah Mbak Fatimah kesembuhan dengan segera.”
Ah, ngomong-ngomong jadi teringat waktu muhasabah dauroh FSLDK Se-Jabar di Pesantren Asy-Syifa Subang. Pemimpinnya bilang, “siapa yang pernah membaca Ayat-Ayat Cinta? Ketika Cinta Bertasbih? Dalam Mihrab Cinta? Bumi Cinta? Huh! Pantas saja para aktivis dakwah lemah semangatnya. Terkena Virus Merah Jambu semua. Kalian ini umat Muhammad atau umat Kang Abik sih?”
Hehe. Tetapi tetap saja, kita perlu sastra. Aisyah pernah berkata, “Ajarilah anakmu sastra…” dan mantan ketua LDK juga pernah berkata, “Sesekali, bacalah novel apabila engkau futur. Boleh jadi, engkau terlalu memaksakan diri dalam beribadah. Tetapi jangan berlebihan, karena dikhawatirkan nanti terlalu lebay. Seperti merasa dirinya sebagai tokoh Fahri dalam AAC. “
Yah, begitulah kawan. Jangan terlalu memaksakan hati. Karena bila hati dipaksakan, ia akan menjadi buta. (Ali bin Abi Thalib r.a)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s