
Liburan sebelum KKP dan sebelum menjalani tingkat terakhir di kampus (dua semester lagi), saya menyempatkan diri untuk membaca sebuah novel. The Kite Runner, yang ditulis Khaled Hosseini yang diterjemahkan ke dalam 42 bahasa, dan lebih dari 2 tahun bertengger di daftar New York Times Bestseller. Terjual di seluruh dunia hampir 8 juta kopi.
The Kit Runner, adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Bercerita tentang persahabatan Amir dan Hassan. Keduanya bersahabat sejak kecil. Persahabatannya digambarkan Khaled (penulis) dengan sangat indah.
“Selama masa sekolah, hari-hari kami lalui dengan rutin. Saat aku berhasil menyeret tubuhku keluar dari tempat tidur dan terhuyung-huyung menuju kamar mandi, Hassan sudah berpakaian rapi, menunaikan shalat subuh bersama Ali, dan menyiapakan srapanku. Saat aku makan dan mengeluhkan PR-ku, Hassan merapikan tempat tidurku, menyemir sepatuku, menyetrika baju yang akan kukenakan hari itu, mengemasi buku dan pinsilku. Aku mendengarnya menyanyikan lagu tua Hazara dengan suara dalamnya saat ia menyetrika bajuku. Lalu aku dan Baba pergi mengendarai Ford Mustang hitm milik Baba, Hassan tinggal di rumah dan membantu Ali menyelesaikan tugas sehari-hari. Sepulang sekolah, aku dan Hassan bertemu, menyambar sebuah buku dan mendaki bukit berbentuk mangkuk di sebelah utara tanah ayahku di Wazir Akbar Khan.
Di atas bukit itu terdapat kuburan tua, dan sebatang pohon delima berdiri di dekat jalan masuk kuburn itu. Aku menorehkan nama kami di pohon itu: ’Amir dan Hassan, sultan-sultan Kabul’. Kata-kata itu menjadi lambang peresmian pohon itu milik kami. Sepulang sekolah, aku dan Hassan memanjat cabang-cabangnya dan memetik buah delima yang berwrna merah darah. Setelah kami memakan buah itu dan mengelapkan tangan kami ke rumput, aku mulai membaca untuk Hassan, yang tanpa sadar mencabuti rumput dari tanah saat aku membacakan cerita yang tak bisa dibacanya sendiri…” (TKR:42-46)
Atau ketika turnamen layangan,
”Aku ingat, pada suatu hari di musim dingin yang kelabu, aku dan Hassan berlari di lingkungan kami, melompati selokan, melaju di jalanan yang sempit. Aku setahun lebih tua dari dia, nmun Hassan berlari lebih cepat dariku, dan aku tertinggal di belakang.
”Apa yang kaulakukan di sini? Gara-gara kamu, kita kehabisan waktu. Layang –layang itu terbang ke arah lain. Memangnya kau tidak melihat?”
”Dari mana kau tahu?” tanyaku.
”Aku tahu.”
”Bagaimana kau bisa tahu?”
Dia menatapku. Butir-butir keringat mengalir dari kepalanya yang botak. ”Mungkinkah aku berbohong padamu, Amir Agha?”
”Lihat, dia datang,” kata Hassan seraya menunjuk ke langit. Dia bangkit dan berjlan beberapa lngkah ke kiri. Aku mendongak, melihat layang-layang yang kami kejar meluncur turun ke arah kami. Hassan telah berdiri dengan lengan terbuka lebar, tersenyum, menanti layang-layang itu…Layang-layang itu menjatuhi lengannya yang terbentang…” (TKR: 79-82)
Dan ketika menerbangkn layangan,
”Ayo kita lakukan,” sambutku.
Wajah Hassan berseri. ”Bagus”, katanya. Dia mengangkat layang-layang kami. Hassan menjilat jarinya dan mengangkat tangannya ke atas untuk memastikan arah angin, lalu berlari ke arah itu. Hassan menendang pasir untuk mengetahui arah angin bertiup. Gulungan benang berputar di tanganku hingga Hassan berhenti, sekitar 15 meter dariku. Dia mengangkat lyang-lyang itu ke atas kepalanya, seperti atlet olimpiade yang memamerkan medali emas. Aku mengentakkan benang dua kali, tanda yang biasa kmi gunakan, dan Hassan pun melontarkan layang-layang itu.” (TKR: 91)
Yang mengejutkan saya bahwa Khaled menata alur novelnya dengan sangat rapi. Hassan diceritakan sangat piwai menggunakan katapel. Ia pernah menggertak Assef yang selalu mengganggu anak-anak Afghanistan.
”..Kalau anda bergerak, orang-orang akan mengubah julukan Anda dari Assef ’Pelahap Kuping’ menjadi Assef ’Bermata Satu’, karena saya membidikkan batu ini ke mata kiri anda…” (TKR:65)
Dan yang membidik mata kiri Assef adalah anak Hassan, Sohrab bertahun-tahun kemudian, melindungi Agha Amir.
”Lalu: ”Bas.” Suara yang ringan.
Kami berdua menatapnya.
”Saya mohon, jangan teruskan.”
Aku teringat akan perkataan direktur panti asuhan saat dia membuka pintu untukku dan Farid. Siapa namanya? Zaman? Dia tidak bisa dipisahkan dari benda itu, begitu katanya. Dia menyelipkannya di pinggang dan membawanya kemana pun dia pergi.
”Jangan teruskan.”
Air mata membasahi celknya, melunturkannya, mengalirkan ciran hitam ke pipinya, menodai warna pemerah pipinya. Bibir bawahnya bergetar. Ingus mengintip dari hidungnya. ”Bas.” ujarnya parau.
Tangannya terpentang di belakang bahunya, menahan bantalan katpel pada tali elastisnya yang ditarik sepanjang mungkin. Ada sesuatu di bantalan itu, sesuatu yang kuning dan berkilauan. Aku mengedipkan mataku untuk menyingkirkan darah yang menutupi pandanganku dan ku melihatnya. Benda itu adalah bola logam yang tadinya terpasang di meja. Sohrab membidikkan katapelnya ke wajah Assef.
”Jangan teruskan, Agha. Saya mohon,” katanya. Suaranya parau dan bergetar. ”Berhentilah menyakitinya.”
Assef menggerakkan mulutnya tanpa suara. Dia bersiap mengatakan sesuatu, namun mengurungkannya. ”Kaupikir apa yang kau lakukan?” akhirnya dia berkata.
”Saya mohon, berhentilah,” jawab Sohrab. Air mata membasahi mata hijaunya, melarutkan celaknya.
“Turunkan Hazara,” desis Assef.” Turunkan atau aku akan menghajrmu smpai kau merasa yang kulakukan padanya hnyalah menjewerny dengan lembut.”
Tangisnya pecah. Sohrab menggelengkan kepalanya.
“Saya mohon, Agha,” katanya. “Berhentilah”
“Turunkan.”
“Jangan sakiti dia lgi.”
“Turunkan.”
“Saya mohon.”
“TURUNKAN”
“Bas.”
“TURUNKAN!” Assef melepaskan cengkeramannya di leherku. Menerjang ke arah Sohrab.
Bunyi Syuuut terdengar dari katapel itu saat Sohrab melepaskan bantalannya. Lalu Assef melolong. Dia menangkupkan tangannya ke rongga yang beberapa saat sebelumnya didiami mata kirinya. Darah mengalir melalui sela-sela jarinya. Darah dn sesuatu yang lain, sesuatu yng kental dan berwarna putih. Namanya cairan vitreus…
The Kit Runner, dalah novel yang saya rokemendasikan untuk anda. Selamat membaca! ^_^

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini