Barangkali memang kita harus belajar pada gadis kecil
Ia melangkahkan kaki dengan riang, nyaris meloncat menggapai langit
Tak pernah letih
Yang ia pikirkan hanya keceriaan dalam setiap langkahnya
Tak pernah berpikir akan keringat, lelah, haus
Ia hanya ingin meloncat, menggenapi keyakinannya
Bahwa langit akan digapainya

(Terinspirasi oleh gadis kecil berambut ikal, berkuncir dua, ketika berpapasan saat pulang dzuhur dari mesjid)

Ya Allah, hari ini padahal sudah mau usai. Hari sudah mulai gelap.Hujan pun mengguyur tanah, seolah sedang meredamkan bara di hati. Menentramkan gelisah, melarutkan sedih. Hari ini ujian PPL. Meski terkesan memaksa, semua sudah berlalu. Perpisahan selalu tidak menyenangkan, akan tetapi semua memang harus dilalui. Ada awal dan ada akhir. Tetapi kita selalu bersama Yang Tidak Berakhir. Allah Selalu Bersamamu…
Biarlah tulisan ini tak koheren. Biarlah kalau memang antara kalimat satu dengan yang lain tak berkait. Hanya ingin sekadar mencurahkan rasa. Meredam bara. Melarutkan sedih. Mengungkap gelisah.

Nggak tahu kenapa, akhir-akhir ini cepat sekali merasa gundah. Padahal Allah sudah menjamin setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Jangan pernah mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, jalani apa yang ada saat ini, dan lupakan masa lalu. Jangan sampai masa lalu hanya membelenggu dirimu.
Allah, aku merindukan belahan sulbiku…

Ibu bukanlah atasan kalian, Ibu partner untuk kalian. Maafkan Ibu, jika selama ini Ibu terlalu banyak memberikan tugas untuk kalian. Jangan pernah menganggap semua ini adalah beban yang harus kalian pikul untuk menyelesaikan pendidikan, akan tetapi anggaplah ini latihan sebelum kalian terjun di medan peperangan yang sesungguhnya. Harus bagaimana lagi Ibu menerangkan dan menjelaskan pada kalian, bahwa hidup itu keras dan tak’kan pernah bisa ditempuh oleh orang yang pandai mengeluh. Hidup ini membutuhkan perjuangan dan tak’kan pernah tahluk oleh orang-orang yang tak punya tujuan. Lebih baik berlumur darah di medan latihan, daripada meregang nyawa di medan pertempuran, bukan?
Ibu juga pernah seumuran dengan kalian. Mengerjakan bertumpuk-tumpuk tugas, berlembar-lembar soal, berpuluh-puluh pertanyaan. Ibu juga pernah mengalami saat-saat kasmaran yang membuat pikiran tak pernah fokus ketika pelajaran. Ibu juga pernah bolos dari kelas, dan mengobrol di sudut-sudut sekolah kemudian menyesal di akhir bel sekolah. Ibu juga pernah mencontek, namun kemudian menyesal karena hal itu hanya akan membuat kita bodoh di depan orang lain dan tak lebih nampak berhaga di hadapan Tuhan. Ibu juga pernah jatuh, melakukan kesalahan, kemudian cepat sadar dan melakukan perbaikan diri.
Sahabatku, alangkah kecewanya Ibu jika kalian tak pernah menganggap penting sesuatu yang Ibu berikan. Kalian tak pernah mengerjakan apa yang semestinya kalian kerjakan. Kalian tak pernah mendengarkan apa yang seharusnya kalian dengarkan. Air mata Ibu hanya untuk keberhasilan kalian. Lelah Ibu hanyalah untuk kebahagiaan kalian di masa depan nanti.
Jikalau Ibu memberi kalian tugas, itu karena Ibu terlalu sayang kalian. Ini semua untuk kebaikan kalian sendiri. Percayalah..
Gurumu,

Ibu Deasy

Hari ini kuliah perdana tingkat empat. Sebenarnya baru dua tahun yang lalu saya kuliah. Tetapi karena saya mengikuti akselerasi, akhirnya sampai juga di tingkat akhir (amin, mudah-mudahan semester depan udah bisa nyusun).
Bingung. Seneng. Sedih. Sedihnya ya mungkin karena nanti tidak bisa ketemu teman-teman lagi. Bingungnya, udah ini mau ngelamar dimana. Dan senengnya, karena saya udah dewasa. Hiks.. mupeng banget tadi, ada yang menyerahkan skripsi sambil boyong istri dan bayi.
Tapi mumpung masih mahasiswa, nikamati saja. Semuanya diniatkan hanya untuk-Nya. Sesungguhnya hidupku, ibadahku, hanya untuk Allah SWT.
Allah, ridhoilah perjalananku =)

AA
“Semoga Allah mempertemukan kita di Ramadhan berikutnya….”

Andai aku tak salah mengartikan kata-kata dalam sms ini. Bisa saja kan, kata-kata yang semestinya terkirim seperti “Semoga Allah menyampaikan kita di ramadhan berikutnya.”

Kita sudah lama tak bertemu. Rindu nggak yaa, sama debaran jantung itu? Sama gemas, keringat dingin, gugup, plus happy tanpa ada sebab.

Ramadhanku…biarlah aku dalam kesibukanmu. Kesibukan menghidupkan malam dengan tarawih, tadarus, kegiatan LDK, sehingga aku tak memikirkan mahluk yang Allah ciptakan entah untuk siapa itu..

Ramadhanku….biarkanlah seseorang melayangkan rasa rindunya dalam sujud tangis berkepanjangan, dalam tilawah yang syahdu, dalam shaum yang tawadhu.

Ramadhanku, jikalau pada akhirnya aku tak sampai padanya, biarlah aku sampai pada Rabb-ku. Biarlah cintaku bermuara hanya pada-Nya.

Melihat rona wajahku, binar di mataku ketika menceritakan sang ratu, Ibu membelai ubun-ubunku. Mencium keningku. Ketika melakukannya, seketika aku merasa ribuan helai rambut di keningku basah. Embun di matanya mengalir hangat di keningku Ibu menangis mendengar penuturanku. Sudah tepatkah pilihanmu, Nak. Bisik Ibu di telingaku. Suaranya begitu lembut, begitu bergaung, menggema sampai ke dalam jiwa. Aku mengangguk, membenarkan semua yang terjadi di lubuk rasa. Kalau demikian, lakukanlah. Tak usah kau meragui hati kecilmu lagi. Berjuanglah, untuk kebahagiaanmu sendiri.
Lalu aku berlari, mengejar sesuatu yang Ibu sebut dengan ’Kebahagianku’. Tapi, tidak. Aku pun ikut menyebutnya dengan ’Kebahagiaanku’. Dengarlah pohon, dengarlah rumput, ia akan menjadi milikku. Dengarlah surya, dengarlah angin, ia akan menjadi pelita di malam-malamku. Dengarlah air, dengarlah ombak. Ia akan menyapu telapak kakiku yang penat dengan air hangat. Ia menjadi penggembira hati di kala sedih, dan pengingat duka di kala lalai. Ribuan senandungnya akan membalas senandung yang kini aku dendangkan di setiap keseharianku.
Bersama murabbi, aku bergegas menemuinya. Sang ratu tengah duduk di sebuah kursi rotan di depan rumahnya. Melintasi pekarangan yang tidak terlalu luas menuju titik dimana ia berada, lututku seakan lumpuh. Ustadz menepuk punggungku pelan. Aku tersenyum gugup. Kerikil di sepanjang tanah seakan ikut menggodaku. Rasa cemas ini serasa mau meledak. Tak ada yang lebih membahagiakanku selain mendengar jawaban, mendengar senandung hatinya, yang selama ini tersembunyi dalam hatinya.
Melalui ekor sudut mataku, aku melihat warna langit cerah yang ketika itu tengah duduk di kursi bangkit berdiri. Ia tersenyum lalu menyapaku. Ia memanggil namaku. Tak pernah aku tahu bahwa selama ini, ia menyadari keberadaanku dan ingat pemilik nama yang kusandang. Tapi kutahu, selama ini ia tuli mendengar senandungku untuknya.
Lalu ia melihat murabbi. Kecerdasannya, menjadikan ia paham maksud kedatanganku. Belum sempat kami berkata dari hati ke hati, ia meminta maaf untuk dua hal. Pertama, ia meminta maaf karena orang tuanya tidak berada di rumah sekarang, sehingga ia terpaksa membiarkan aku dengan Ustadz duduk di kursi rotan di beranda. Kedua, ia meminta maaf untukku. Untuk ’Kebahagiaanku’. Jari-jemarinya menyodorkan sesuatu yang membuat senandung laguku karam. Sebuah kertas yang tergulung berwarna biru mempercepat karamnya senandungku. Langit jinggaku pecah. Biru anganku menguap dengan cepat. Aku tak’kan pernah melupakan rona wajahnya sesaat setelah mataku yang terluka, menatap ke dalam matanya. Mempertanyakan hatinya. Ia memang tuli terhadap senandungku.
Dua hari setelah sang ratu menyodorkan gulungan kertas biru yang membuat senandung laguku karam, murabbiku wafat. Lalu aku jatuh tak sadarkan diri dalam kesedihan yang melarut, dalam sujud panjangku, dan dalam tangis khusyu saat membaca kitab-Nya, di hari-hari menjelang pernikahannya.
Sungguh, beribu-ribu lirik lagu yang kutulis untuknya, akhirnya harus karam, ditelan ombak kehidupan yang ganas. Dan kini, akan kumulai menyanyikan satu demi satu lagu itu, di hari pernikahannya.
Untuk kali ini, Tuhan, aku bersyukur. Ia tidak tuli lagi. Lewat gorden biru laut yang menghijab dua mahluk Allah dari sulbi Adam dan pasangannya itu , aku dapat merasakan bahwa sang ratu mendengar senandungku. Bau semerbak haru melati seakan berkata ribuan maaf darinya untukku, untuk ‘Kebahagiaanku’.
Aku tersenyum dalam senandung-senandungku yang karam. Seraya mengingat warisan murabbi,
Jika engkau benar-benar mencintai dia karena Allah, engkau pun akan meninggalkan dia karena Allah.
-Tamat-

Kemudian, lagu itu mulai berlayar dalam semilir angin. Berharap, lagu itu terdengar di telinganya. Ia memang mendengarnya. Lalu ia tersenyum, tanpa menyadari bahwa lagu itu untuk langkah kakinya, untuk tangisannya, untuk senyumannya, untuk gerakan kecilnya, dan untuk risau yang ia timbulkan di langit hatiku.
Namun itu tak menyurutkan langkahku untuk terus bersenandung. Lagu itu berlayar. Terombang-ambing dalam lautan penantian semu. Hendak berlabuh pun tak kuasa, karena aku memang tak bersuara. Tak punya hak sedikitpun untuk mengatakan padanya. Ketenangannya membelengguku. Aku seperti gejolak api yang akan melalap salju. Aku tak kuasa. Aku takut menyakitinya. Aku mencintainya, sekaligus takut menyakitinya.
Dan ia tetap menjulang disana. Dengan kecemerlangannya, dengan sinar kemilaunya, dengan cahaya di sekelilingnya. Tak terusik sedikitpun oleh gelisahnya jiwa di dadaku. Biarlah, Tuhan, biar aku yang menanggungnya. Biarlah ia tetap cemerlang di sana.
Kemudian, ia masih tetap cemerlang. Anggun dalam segala aktivitasnya. Begitu memukau. Begitu memukau.
Kemudian, aku menguatkan hati. Aku berkata pada Ibuku, ada seorang ratu yang bertahta di hatiku

Ketika berjalan, yang kupandang adalah langkah kakinya. Ketika berpapasan, aku mencium bau bejana terguyur air hujan. Ketika berbicara yang kulihat adalah tudung jilbabnya yang bundar. Ketika melihatnya tertawa, aku hanya dapat melihat bahunya terguncang. Ia senantiasa menyembunyikan tawanya dalam simpul senyum, dan membisikkannya lewat udara di sekelilingnya bahwa ia tengah tertawa.
Lalu kemudian, suatu ketika matanya mengembun. Dan ketika bulu matanya bersujud, sebuah mata air kecil terbentuk jatuh, menelusuri tulang pipinya yang kokoh. Namun, tak pernah kulihat keluhan dari sudut bibir merahnya. Tak pernah aku melihat kerut di keningnya, dan tak pernah sedikitpun kulihat ia menaikkan alisnya. Ia seperti seteter air di tepian daun di pagi hari. Embun pagi. Atau, seperti sinar ungu kehijauan yang terbentuk di langit dingin kelabu di dataran salju. Aurora. Tuhan, dengan apa lagi aku melukis kecantikannya? Mata ini sepertinya berkhianat dan terus-menerus menatapnya, mengingkari iman, dan membenarkan hati. Aku jatuh cinta. Jatuh cinta. Jatuh cinta.
Setiap tutur kata yang keluar, menaungi telingaku, menyejukkan hati. Setiap gerakannya, sekecil apapun itu, selalu kudamba. Setiap kehadirannya, selalu, setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan detiknya. Aku merangkainya dalam untaian kata, diiringi sederet doa penuh cemas dan hati yang galau. Aku menuliskan semua tentangnya di kepalaku, seraya meraba nada-nada yang tak berirama dalam jantungku. Pelan aku memintalnya menjadi jutaan benang-benang langit jingga hatiku. Pelan aku menyulamnya menjadi derasnya langit biru anganku. Pelan aku menjaganya dalam pasir di hatiku, dalam buai di samudera kasihku.
Dengannya, hari-hariku menjadi empat musim yang berganti begitu cepatnya. Dengannya, deru angin menjadi simfoni tersendiri serupa dengan gemericik air yang terjatuh di hitamnya bebatuan. Dengannya, aku begitu utuh. Serupa kepingan puzzle yang tepat di keempat penjurunya.
Seraya memendam kerinduan yang mengerak, dengan hati yang luar biasa mengigil, aku menjalin lagu dengan hati yang teriris-iris. Penuh kutambatkan pada dentingan nada, pada merdunya suara-suara kata hati. Berulang kali, hingga menjadi ribuan lagu. Ribuan lagu yang senantiasa berdoa dalam dentingan nadanya

Diambil dari notes Facebook, gubahan dari tulisan Annisa Cinta Damai

Walimahan PLan (bismillah..)
Share
Thursday, July 30, 2009 at 12:12am | Edit Note | Delete

Rules: Once you’ve been tagged, you are supposed to write a note with d wedding plan! =) At the end, choose d people u want to be tagged. You have to tag the person who tagged you. If I tagged you, it’s because I want to know about u! =)

(To do this, go to “notes” under tabs on your profile page, paste these instructions in the body of the note, type your wedding plan, tag d people (in the right hand corner of the app) then click publish.)

1. how old are you?
mudah-mudahan 20

2. are you single?
Berhubung belum ketemu saya diciptakan dari tulang rusuk siapa, kayaknya iya. I’m single, I’m very happy

3. at what age do you think you’ll get married?
argh…telat empat tahun! Mestinya kalau ‘Nikah Dini Keren’ 16 tahun ya?

4. do you think you’ll marry the person you are with now?
Bikin iklan: Dibutuhkan segera: dokter spesialis tulang untuk mencari tulang rusuk deasy yang hilang..

5. if not, who do you want to marry?
dokter spesialis tulangnya :)

6. who will be your bridesmaid & bestman?
Ibu-Rama. Heuheu..perempuan paling cantik dan laki-laki paling gagah yang pernah saya kenal..

7. do you want a garden/beach or traditional wedding
syar’i wedding. Mempelai perempuan dan laki-laki nggak usah dipajang di pelaminan, hm?

8. where do you plan to go on honeymoon?
Bunaken ( kali aja bisa kayak Edward Cullen dan Isabella Swan di pulau Ester)

9. how many guests do you think you’ll invite?
Dalam satu panti asuhan ada berapa orang ya?

10. will that include your exes?
apa si? maksudnya mantan gitu? Nggak ada…nggak pernah pacaran…

11. how many layers of cake do you want?
dua. terus suap-suapan..(hati-hati ditangkap KPK)

12. when do you want to get married, morning or evening?
jam 9 de. nonton Conan dulu, dhuha dulu

13. name the song/tune you’d like to play at your wedding.
Edcoustic-Duhai Pendampingku. Nyanyiin terus dah, sampai jam dua..

14. do you prefer fine dining or just normal spoon&fork?knife?
biasa aja. Jangan terlalu banyak jajanan. Ntar makan sambil berdiri, lagi..

15. champagne or red wine?
aqua aja dah

16. honeymoon right after the wedding or days after the wedding?
kayaknya pulang walimahan, langsung cabuut! Biar nggak disuruh beres-beres. heuheu…

17. money or household items as gifts?
Buku. Biar bisa saling bacain cerita sebelum bubu..

18. how many kids would you like to have?
bikin kesebelasan tim sepak bola :)

19. will you record your honeymoon in DVD/CD?
nggak ah, cukup Allah yang tahu. prikitiw…

20. whose wedding plan would you like to know next?
hati manusia itu sedalam samudera, jadi rahasiakan saja. Hehe..